Kejadiannya ketika hari jumat siang tanggal 11 Maret 2011 pukul 2.20
Hari itu saya dan rekan saya mas Suhar baru saja kembali ke kampus sehabis sholat jumat di masjid Shin Okubo. Ternyata di Lab sudah ada rekan saya lainnya mas Aswin yang katanya hanya mampir sejenak ke kampus, tadinya dia tidak ada niat ke kampus. Kami makan siang bersama sambil ngobrol, saat itu waktu sekitar pukul 2.15. Mas Suhar menawarkan kopi yang ia beli di toko Indonesia di Shin Okubo. Kami pun dengan senang hati menerima tawaran kopi sachet 3 in 1 dari Indonesia.
Tiba2 ada getaran gempa beberapa detik, kami tidak jadi bikin kopi. Kemudian terjadi goncangan kuat, kali ini lebih kuat dan lebih lama dari sebelumnya. Saya mencoba menelepon istri saya via softbank, tapi sia sia tidak sinyal. Saya ke toilet dan bertemu prof Ayao Tsuge, kami sempat berkelakar kalo di Indonesia pun sering gempa, tetapi bila gempa kami harus segera lari keluar karena gedungnya tidak disiapkan untuk gempa besar. Dan sempat bercerita kalo ada student jepang malah tetap berada di depan komputer ketika ada gempa di ITB sementara mahasiswa lain sudah panik turun keluar, dia baru mau bergerak ketika kita bilang ini “Indonesia bukan Jepang”.
Tiba-tiba terjadi goncangan lagi, kali ini lebih keras dan cukup lama menggoyang gedung gedung. Kami melihat keluar gedung, orang Jepang tampak panik dan merunduk, tiang lampu pinggir jalan berguncang. Goncangannya sekitar satu menit, kami mulai panik dan keluar ruangan lab. Kemudian goncangan berhenti untuk sementara dan kami kembali masuk ke ruangan. Gedung kami di Tamachi masih baru dan standard untuk gempa 9M, jadi kami agak tenang. Tapi saya agak panik karena tidak dapat menghubungi keluarga sama sekali.
Tidak beberapa lama kemuadian terjadi goncangan sangat kuat kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Gedung rasanya seperti bandul yang diayun, rasanya di dalam kapal laut melewati ombak. Suara gedung yang tadinya berbunyi doong.. dooong.. dooong.. tiba tiba ritmenya menjadi sangat cepat seperti orang memukul paku dengan palu. Yang terkeras berbunyi menjadi “nguuikk… rasanya gedung menjadi miring bergoyang cepat seperti bandul. Saya mencoba membuka web site Japan Meteorological Agency ternyata gempa sampai 8.9M dan berpotensi tsunami. Saat itu sensei masuk ruangan dan di bilang ini gempa besar, akan banyak bangunan rubuh dan jatuh korban. Dia juga bilang tidak dapat menghubungi keluarganya. Saya bilang kalo ada warning tsunami di JMA, dan sensei terlihat panik, karena beliau tinggal di daerah Makuhari, dekat dengan teluk tokyo.
Saya coba tulis status di Facebook mumpung internet jalan, kondisi terakhir, teman saya membalas saat ini sedang liat CNN di Indonesia, dan ada tsunami akan datang. Di luar gedung, helikopter berputar putar dan sirine tsunami meraung keras, persis seperti saat akan ada perang seperti di film2 perang dunia ke dua. Mas Aswin dan mas Suhar kembali ke dalam lab, guncangan masih ada namun tidak sekeras yang tadi. Rasanya seperti habis naik kereta api, terus bergoyang dan saya memutuskan untuk segera pulang walaupun tahu bisanya KRL akan diberhentikan bila gempa. Setelah pamit dengan mas Aswin dan mas Suhar, saya pun menuju stasiun yang berjarak hanya 1o menit berjalan, dugaan saya benar, tidak ada kereta sama sekali. Ditengah stasiun ada TV besar menyiarkan live tsunami sedang menuju sendai yang tingginya bervariasi mulai dari 7m hingga 10m. Rasanya dejavu seperti melihat tsunami menerjang Aceh tahun 2005 lalu hanya bedanya kali ini ini bangunannya modern. Mobil2 dan bis digulung ombak dengan mudah. Kebakaran dimana mana dan kapal kapal nelayan terbawa masuk kedalam daratan dengan cepat. Gelombang tsunami susulan menghapiri sendai setelah menghantam Airport, garis putih ditengah laut bergerak cepat, “sebuah ombak yang indah dan mematikan, menunjukan betapa kuatnya alam ciptaan Allah SWT
Saya perhatikan orang jepang masih tenang melihat NHK tidak panik, beberapa masih tampak kesal karena tidak ada kereta. Sepertinya mereka belum menyadari kalo ini suatu bencana besar yang akan menghabiskan nyawa ratusan ribu orang seperti tsunami di Aceh. Hebatnya disini polisi siaga satu, mereka berada di tempatnya mengarahkan para penumpang untuk tidak berdiri dibawah papan petunjuk. Sesekali susulan gempa terjadi, dan orang orang mulai terlihat tegang dan bosan karena tidak ada kereta, telepon umum menjadi penuh, telekomunikasi mati. Akhirnya saya memutuskan kembali ke kampus daripada berdiam di stasiun.
Sampai di kampus, kami diminta untuk tetap tinggal di kampus dan akan dibagikan suvival food dari kampus. Hebatnya internet tidak mati, alhamdulillah saya bisa kontak dengan istri dan tenang, tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan keluarga saya di Higashi Omiya. Goncangan susulan masih kerap ada, waktu menunjukan pukul 4.30 sore, namun guncangan gempa masih terasa. Ketika sholat ashar pun rasanya goyangannya masih terasa walaupun tidak ada gempa.
Akhirnya saya memutuskan untuk membeli minum dan roti di Lawson depan kampus. Ternyata pikiran orang sama, air mineral, roti, makan malam, minuman kaleng habis. Yang tersisa hanya majalah, dan rak minuman bir. Antrian panjang mengular didepan kasir, seorang anak muda Amerika tampak kesal sambil berkata “fuck.. fuck” karena kesal mengantri. Saya sempat bertemu sensei, dia tertawa waktu saya bilang ini persiapan untuk menginap di kampus.
Malamnya kami dibagikan makanan kaleng dan dan roti kering. Rasanya lucu juga dapat makanan kaleng yang didalamnya ada muffin. Rasanya manis sekali, biasaya makanan Jepang rasanya hambar, jadi langsung kenyang di perut. Kami bertiga ngobrol sperti saat kemping, atau terdampar di kampus tepatnya. Mas Aswin masih terheran2, koq bisa gempanya pas kami ada bertiga di lab. Hingga malam masih ada gempa susulan. Kepala rasanya pusing, karena adanya suspensi di pondasi gedung membuat gedung bergerak seperti bandul bila ada gempa. Mau tidurpun susah karena was was. Alahamdulillah jam 10 sambungan softbank mulai ada dan saya bisa kontak langsung dengan istri memastikan keadaan di rumah aman. Sekitar pukul 4 pagi, terjadi lagi getaran keras, tapi rasa kantuk mengalahkan kepanikan, kamipun tertidur lagi.
Saya terbangun saat pukul 5 untuk sholat subuh. Rasanya itu sholat subuh terbaik, dimana saya bersyukur kepada Allah SWT telah melewati malam yang tidak pernah saya bayangkan terjadi di negara orang. Akhirnya pukul 9 pagi saya kembali menuju stasiun, langit cerah dan saya bersyukur bertemu kereta KRL keihin tohoku line yang beroperasi di tengah gempa susulan. Beberapa kali kereta berhenti karena adanya gempa. Kereta sangat penuh sesak, hampir tidak bisa bernafas, alhamdulillah kami sampai di stasiun Omiya. Dan pulang ke rumah dengan taksi, berbaris rapi 4 jam dari jam 1 siang hingga pukul 5 sore baru kebagian dapat taksi. Alhamdulillah bisa berkumpul kembali dengan keluarga.
Satu minggu pasca gempa merupakan hari hari yang kristis di Tokyo, dengan adanya ledakan di reaktor nuklir Fukushima dan habisnya barang2 di Super market dan penuh ketidak pastian. Benar benar hari yang tidak akan terlupakan dalam hidup.


Leave a comment
Comments feed for this article