Sebelum berangkat di Jepang, saya sudah diwanti wanti oleh rekan yang pernah studi di Jepang untuk perhatikan jadwal pembuangan sampah. Ada hari sampah organik dan non organik dan hari sampah elektronik dimana bisa lihat tv atau walkman sony dibuang begitu saja ditempat sampah. Awalnya hal ini tidak terbayang oleh saya ada orang buang TV ke tempat sampah atau benda elektronik apa lagi ada jadwal hari sampah yang harus diperhatikan atau sampahnya tidak diangkut. Setahu saya di Indonesia hanya ada slogan ” Buanglah sampah pada tempatnya”..
Di Jepang kita harus memisahkan jenis-jenis sampah, burnable, unburnable dan recycling. Awalnya saat tinggal di asrama, pemilik asrama sering marah marah karena banyaknya sampah yang tercampur dan dibuang tidak semestinya. Contohnya kalo sampah burnable contohnya sisa sayuran atau kulit buah-buahan harus dibuang di satu tempat sampah dibungkus plastik transaparan, sampah unburnable seperti kaleng, botol, lampu, termometer harus dibuang di satu tempat sampah dibungkus plastik transparan dan recycle seperti plastik, kertas, botol PET juga disatu tempat sampah juga dibungkus plastik bening. Barang yang dapat digunakan lagi seperti buku, majalah, kardus harus diikat dan diplastikan supaya tidak basah saat hujan.
Informasi tentang sampah ini diberikan oleh city ward, atau kantor kecamatan saat kita mengurus ID, ada versi jepang dan juga versi inggris. Tibalah saatnya saya pidah ke apartemen kecil sendiri, waktunya masuk kedalam pemukiman masyarakat Jepang. Disini sampah dikumpulkan di satu tempat, tiap area yang terdiri dari beberapa rumah memiliki satu lokasi pembuangan sampah. Tiap lokasi pembuangan sampah terpampang jadwal pengambilan sampah dan jadwal harian sampah yang berbeda-beda. Misalnya didaerah saya di Higashi Omiya, sampah burnable hari senin dan kamis, hari selasa sampah unburnable, hari jumat hari sampah recycle. Hari rabu, sabtu dan minggu tidak ada jadwal pengambilan sampah.
Di Jepang ini setiap tumpukan plastik sampah harus di tutup dengan jaring, hal ini supaya tidak ada kucing yang masuk membongkar plastik sampah atau burung gagak. Masalah burung gagak ini ternyata paling sering yang saya lihat selama saya disini. Banyak orang bilang ini burung cerdas, mungkin juga, burung ini paling sering mengacak-acak tumpukan sampah dihari sampah burnable (hari senin dan kamis). Jadwal pengambilan sampah di Higashi Omiya sekitar pukul 9 pagi baru sampah terangkut bersih oleh truk sampah yang bersih juga. Burung-burung ini bergerak saat matahari terbit pukul 6, jadi mereka masih ada waktu untuk berburu sampah sebelum truk sampah datang. Kadang pastik kresek sampah yang berisi sisa makanan, buah dan sayuran ditarik ke tengah jalan. Dan biasanya ada 2 burung yang bersama sama membongkar dan hanya mengambil yang perlu saja. Kadang hanya mengambil semacam tali, mungkin untuk membuat sarang. Sayang burung-burung ini selalu menghindar saat akan di foto, susah untuk dapat momennya.
Awalnya tidak ada masalah, biasanya saya membuang sampah saat malam hari, karena pagi harus berangkat ke kampus dan ditempat sampah juga sudah ada plastik sampah yang lainnya. Sepertinya hal ini tidak boleh, karena resiko dibongkar binatang pada saat malam hari. Hingga satu saat saya membuang di malam hari dan menutup rapi dengan jaring, tapi hanya ada plastik sampah saya, hal ini membuat saya curiga, kenapa malam ini hanya sampah saya saja yang ada, dimana yang lainnya? Orang Jepang ini hidupnya sangat teratur, tidak random seperti di Indonesia, jadi kalo kita peka kita akan tahu perubahan yang ada. Tapi saya pikir, tidak akan ada yang tahu ini sampah saya, toh sudah malam dan kalo yang dicurigai orang asing tidak hanya saya mahasiswa asing disini, atau mungkin orang jepang lainnya karena plastik yang saya gunakan biasa seperti orang jepang lainnya.
Ternyata dugaan saya salah, hingga dipagi hari di salah satu keranjang sepeda milik teman saya ada bungkusan plastik sampah diaper. Hmm.. ini plastik sampah popoknya siapa yaa, mirip dengan punya kita, kata saya ke istri, mungkin punya tetangga malaysia yang juga punya bayi. Sampai akhirnya keesokan hari minggu sampah itu masih ada ditempat yang sama dan setelah diperhatikan lagi ternyata itu sampah milik saya. Buru buru saya ambil sampah saya dari keranjang sepeda teman saya dan dibawa masuk kembali ke dalam rumah. Antara perasaan kesal, marah pertama kali dalam hidup ada kantung sampah yang sudah dibuang dikembalikan lagi. Apa maksudnya, koq bisa tahu, apa mereka memata matai tempat sampah?
Saya obrolkan masalah ini ke tetangga malaysia yang lebih lama tinggal disini. Ternyata masalahnya ada 2 kesalahan yang saya buat, pertama saya buang dilokasi sampah yang salah, untuk gedung saya berada area pembuangan yang lain. Saya buangnya ketika malam, hal ini tidak boleh dan sepertinya baru diberlakukan di area pembuangan tersebut, dan saya tidak paham karena tulisannya kanji. Koq bisa balik ke gedung saya, ternyata mereka memperhatikan bungkus plastik diaper yang saya buang. Konyolnya saat itu hanya saya dan tetangga malaysia itu yang punya bayi, jadi mereka mudah menandai, maklum di jepang sekarang lagi zero population. Saat ini tetangga malaysia saya sudah lulus dan balik ke negerinya, tinggallah di satu blok hanya saya satu satunya yang punya bayi.
Disini ternyata, setiap blok punya aturan area pembuangan sampah. Orang yang tinggal di luar blok sampah tersebut tidak boleh buang sampah disitu, walaupun lokasi tempat sampahnya lebih dekat daripada lokasi sampah semestinya. Tiap blok sampah ini ada penanggung jawabnya, orang ini yang akan meneliti ketepatan pembuangan sampah harus sesuai jadwalnya. Bila salah dia harus menegurnya, orang jepang bukan tipe yang langsung menegur tetapi menegurnya dengan moral salah satunya dengan membuat malu orang yang salah. Maklum rasa malu karena salah, disini itu adalah kesalahan besar, sementara saya didikan pendidikan Indonesia yang terbiasa dididik untuk jangan pernah merasa malu. Seingat saya malu itu boleh kalo salah, buang sampah sembarangan di Indonesia salah, tapi kita tidak merasa malu karena hampir semua orang melakukannya dan biasanya kalo diingatkan akan bilang yang lain juga sama.
Akhirnya saya jadi sering memperhatikan tempat2 sampah disini dan perilaku mereka membuang sampah. Manusia itu memang selalu mencari celah untuk berbuat kesalahan juga banyak orang Jepang yang tidak mengikuti aturan. Saya tidak bilang kalo manusia Jepang itu bersih bersih. Disini saya juga banyak menemukan kejorokan yang dilakukan orang Jepang yang kadang katagorinya sama dengan umumnya di Indonesia. Saya masih toleran dengan penduduk Indonesia yang jorok, maklum negara padat populasi dengan berbagai tingkat pendidikan dan tidak ada sistem yang baik untuk sampah.
Jadi apa yang bikin beda? Negara Jepang ini membentuk manusia dengan sistem terukur, begitu juga lingkungannya. Orang disini bila ada sampah kecil walau itu bukan sampahnya dan bukan pekerjaanya tetap sampahnya di ambil. Sistem sampah ini membuat negeri ini bersih, walaupun di jalan sedikit sekali menemukan tempat sampah di banding di Indonesia, tapi jalanan tetap bersih. Sistem yang mereka buat harus bisa terukur dan presisi untuk mendapat hasil yang baik. Proses yang dilakukan akan mempengaruhi proses yang lain dan sebisa mungkin memudahkan pekerjaan proses berikutnya. Begitu juga sistem pengumpulan sampah supaya mudah untuk proses pengolahan sampah berikutnya.
Apa bisa sistem itu merubah perilaku manusianya, saya yakin bila sistemnya baik dan ada saling mengawasi serta konsisten pasti manusianya berubah menjadi lebih teratur. Saya pribadi termasuk kontributor sampah di jalan-jalan di Indonesia. Habis beli makanan atau minuman langsung saya lempar ke got pinggir jalan atau tumpukan sampah yang sudah ada. Kadang sambil naik mobil pun saya juga pernah buang sampah ke pinggir jalan, rasanya begitu bebas. Bagaimana sekarang di negeri orang? Disini tempat sampah sulit ditemui, alasan yang bagus untuk buang sampah sembarangan, juga ada sedikit sampah lainnya di pinggir jalan, populasi orangnya sedikit jadi tidak akan ada yang tahu, lengkaplah alasan membuang sampah sembarangan. Yang bikin saya tidak mau buang sampah sembarangan hanya rasa suka dengan bersih, rasa senang bisa kontribusi jaga kebersihan lingkungan dan yang terbaik merasa bangga bisa sama bersih dan bisa juga lebih bersih di banding manusia lokalnya.


Leave a comment
Comments feed for this article