Saya melihat negeri yang teratur dan bersih tapi bukan di Indonesia

Saya berjalan di jalan yang aspalnya halus, rapi dan terukur tapi bukan di Indonesia

Saya berjalan dimalam hari sendirian pulang ke rumah dengan merasa aman tapi bukan di Indonesia

Saya menatap negeri yang mampu membuat barang yang canggih dengan kemampuannya sendiri tapi bukan di Indonesia

Saya menatap sebuah rocket yang besar, satelit ruang angkasa, menaiki pesawat besar, kereta peluru, mobil listrik namun semua bukan buatan Indonesia

Saya melihat orang saling membantu ikhlas dan saling memberi semangat dan kesabaran kepada sesama disaat kesulitan tapi bukan di Indonesia

Saya melihat kampus kampus dengan gedung megah dan peralatannya yang modern tapi bukan di Indonesia

Saya melihat para pemimpin bangsa yang memiliki nilai integritas dan rasa malu yang tinggi tapi bukan di Indonesia.

Saya melihat hanya seorang pengemis menadahkan tangan di jalan dalam jangka satu tahun tapi bukan di Indonesia

Negeri itu bukanlah Indonesia, hanyalah negeri di alam mimpi.

Sebuah tugas besar menanti mewujudkan mimpi ini di Indonesia.

 

Dirgahayu Indonesiaku..

17 Agustus 2011

Setiap orang memiliki gunung keinginan yang ingin dicapai. Kadang keinginan itu belum tentu sama dan dihargai oleh orang lain. Tapi yang terpenting adalah menghormati keinginan tersebut. Pelajaran yang saya dapat dalam hidup ini yang terpenting adalah persiapan untuk mencapai apa yang kita inginkan. Dan dari semua itu yang paling penting adalah niat yang tulus dan keinginan yang kuat, maka semua halangan yang ada akan terlewati. Terlepas dari semua itu adalah takdir yang ditetapkan oleh Yang Maha Kuasalah yang menentukan. Ketika manusia telah berusaha maksimal namun Tuhanlah yang nanti akan menentukan hasilnya. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan, mamun petunjuk dari Yang Maha Kuasa yang akan membimbing kita melewati semua jalan kecil yang terjal dan berliku. Berusahalah dengan maksimal, sungguh-sungguh dan bersyukur dengan apa yang kita telah dapat dalam hidup apapun itu hasilnya dan selalu berusaha ikhlas menjalaninya.

Selalu ada kesempatan kedua untuk naik gunung Fuji. Kesempatan pertama ketika dua tahun yang lalu saya gagal mencapai puncak Fuji san. Akhirnya tanggal 9 July 2011 lalu saya berserta seorang teman saya berangkat naik bersama ke puncak gunung Fuji. Saya pilih bulan July ini karena Agustus telah masuk ke bulan ramadhan.

Pengalaman 2 tahun lalu cukup membuat saya penasaran untuk sampai ke puncak Fuji san, karena saya sempat melihat anak-anak kecil dan orang tua disaat pendakian. Harusnya bila persiapan dilakukan dengan benar maka pendakian ke puncak Fuji akan menyenangkan. Sebagai orang yang awam akan pengetahuan hiking, maka saya belajar dari blognya para pendaki gunung di Indonesia, para pendaki alpine di eropa dan juga blog dari pengalaman orang orang yang telah sampai ke puncak Fuji. Persiapan adalah hal yang paling menentukan, keinginan yang kuat tanpa perlengkapan yang memadai akan terasa menyakitkan, tapi keinginan kuat dengan persiapan yang baik hasilnya akan lebih menyenangkan. Gunung tinggi akan menghukum orang orang yang naik tanpa menghormati gunung, tapi akan memberikan puncaknya walau sesaat bagi orang orang yang menghormatinya.

Ini adalah persiapan dan kelengkapan yang biasanya dilakukan dan dibawa orang Jepang untuk naik ke Fuji-san. Setidaknya saya mulai menabung uang dengan mengantikan rencana untuk membeli kamera Nikon SLR di Akihabara dengan membeli perlengkapan untuk naik ke Fuji.

1. Persiapan Fisik,

Beberapa bulan sebelum bulan pendakian Juli-Agustus dibuka, sebaiknya telah melakukan latihan olah raga seperti berlari, jalan cepat maupun berenang.

2. Perlengkapan standar mendaki.

a. Tas Ransel, minimum 30 liter. Lebih baik bila dilengkapi bag cover.

b. Topi, untuk menghadapi cuaca yang berubah cepat dari mendung mendadak panas terik. Akan lebih baik berbahan breathable seperti gore-tex.

c. Penutup kepala musim dingin, kupluk. Berfungsi saat ada angin dingin di Fuji, lebih baik bila berbahan wind stopper.

d. Kaca mata hitam, untuk persiapan bertemu matahari summer di atas Fuji.

e. Head lamp. Sangat diperlukan saat pendakian malam hari. Sebaiknya pilih head lamp yang berlampu LED dan ringan supaya irit batre dan kepala tidak berasa berat.

f. Pakaian layering. Karena Fuji memiliki suhu 25-20 derajat celsius di stasiun 5 dan 7 celsius hingga 0 derajat celcius di summit ketika malam hari, maka prinsip layering adalah yang lebih baik. Untuk manusia-manusia sub tropis utara, suhu 5 derajat celsius di malam hari adalah saat-saat suhu yang nyaman di musim panas. Tapi sebagai manusia tropis dari Indonesia, suhu 5 derajat tanpa pakaian yang baik, akan cukup untuk membuat tubuh menggigil.

- Base layer, bagian badan dan kaki, sebaiknya berbahan sintetis mudah kering. Base layer ini biasa di jumpai untuk olah raga musim digin di Jepang, ada merk mizuno, body armour, bersifat heat resistant. Untuk kaus, sebaiknya juga memilih kaus olah raga berbahan sintetis yang mudah kering. Kaus olah raga sintetis banyak ditemui di toko saat musim panas dari yang murah tidak bermerk sampai yang bermerk seperti Nike dry fit dan Addidas Clima proof atau North face, Marvel peak dan lainnya.

- Mid layer, jaket Fleece berbahan wind stopper atau yang lebih baik fleece berbahan breathable. Jaket fleece baranded ringan akan banyak dijumpai di toko olah raga hiking di Jepang seperti merek North face, Millet, LL Bean, Columbia, Mont bell, Mountain hard ware dan lainnya.  Namun jaket fleece biasa yang ditemui di toko Uniqlo sudah cukup hangat digunakan. Sebaiknya pilih yang memiliki zipper sampai ke bawah. Karena bila tubuh terasa panas saat bergerak, cukup menurunkan zipper untuk menstabilkan suhu tubuh. Saat temperatur udara turun mencapai 10 derajat, jaket fleece ini akan nyaman digunakan.

-Outer layer, Jaket water proof. Lebih baik yang berbahan breathable seperti gore tex atau hivent. Pilih jenis jaket breathable yang ringan, tidak berat, setidaknya bisa digunakan lagi ketika pulang ke Indonesia.  Untuk jacket gore tex, tipe pacelite adalah jenis jaket yang paling ringan. Selain jaket hujan, down Jacket ringan berguna saat suhu turun mendekati 5 derajat celsius. Light down jacket yang kita jumpai di Uniqlo juga cukup hangat dibanding dengan merk branded seperti North Face.

g. Celana gunung, akan lebih baik bila menggunakan bahan anti air atau water repelent yang cepat kering. Ini supaya kita tidak perlu lagi double memakai celana luar khusus anti air seperti berbahan gore tex. Sebaiknya tidak menggunakan Jeans ketika naik gunung. Bila mau irit bisa menggunakan celana hujan yang agak tebal yang biasa ditemui di Jepang, jangan membeli rain coat yang 100 yen, karena akan mudah robek bila kita salah posisi bergerak.

h. Glove, glove yang digunakan sebaiknya yang biasa kita gunakan saat winter.

i. Sepatu, gunakan sepatu gunung, sebaiknya berbahan anti air. Bila baru membeli, baiknya sudah digunakan sebulan sebelum naik gunung supaya kaki sudah terbiasa dengan sepatu. Beberapa jenis sepatu gunung sudah menggunakan bahan gore tex dan beralas Vibram.

j. Kaus kaki, gunakan kaus kaki yang tebal, biasa kita jumpai saat winter. Jangan lupa potong kuku sebelum naik gunung, dari pengalaman lumayan merasakan nyeri sepanjang menuruni Fuji.

k.  Gaiter, berguna saat turun hujan dan saat melewati medan berpasir terutama saat turun dari Fuji. Pilih tipe yang agak panjang dan anti air.

l. Masker, bawa masker yang biasa dilihat sehari hari di Jepang, akan berguna saat turun Fuji, medan berpasir

m. Stick pole, optional, lebih baik dan murah membeli stick kayu di station 5, lumayan bisa dapet cap di tiap stasiun buat kenang-kenangan dari berhenti di st 7 sampai ke Summit. Beberapa kali saya lihat orang Jepang hanya menaruh stick pole nya dalam di tas.

n. Oxigen can, optional, akan berguna saat sudah berada di stasiun 8, tapi dengan mengatur nafas akan tidak ada masalah. Untuk yang pernah Asma, bawa oksigen kaleng akan lebih aman

3. Informasi,

- Peta pendakian, dan jalur pendakian bisa di dapat di informasi atau cari di internet. Di stasiun 6 disediakan brosur peta berbahasa inggris.

Kita harus ingat nama jalur yang kita gunakan supaya dapat kembali ke tempat kita berangkat atau kita akan menuju ke prefecture yang berbeda.

Contoh bila berangkat melewati Yoshida Guchi trail, maka sebaiknya kita turun juga melalui Yoshida trail. Petunjuk jalan di Fuji cukup jelas dan dilengkapi peta, untuk Yoshida trail jalurnya berwarna kuning. Rute naik dan rute turun melalui jalur yang berbeda.

- Informasi Cuaca, cek cuaca di Japan Meteorology Agency di daerah Yamanashi.

- Informasi bis, perhatikan jadwal bis atau jadwal kereta untuk pulang. Kalo bisa memesan, booking yang agak sore supaya tidak harus berlari lari mengejar jadwal bis saat turun dari puncak Fuji.  Saat itu kaki kita sudah lelah karena sehabis naik dan kondisi fisik sudah menurun, akan menyakitkan bila berlari turun hanya untuk jadwal bis.

4. Makanan dan minuman. Bawa makanan yang paling menyenangkan dan bisa membuat kita kenyang. Bawa cemilan karbohidrat manis yang yakin kita akan menjadi kenyang.   Kalo tidak ada masalah dengan makanan jepang, di Summit bisa makan dengan ramen atau udon. Kalo bermasalah, sebaiknya membawa bekal makanan sendiri yang enak. Minuman paling sedikit 2 liter, bila sampai di Summit minuman habis, segera beli minum di summit, karena sepanjang jalan turun tidak melewati hut dan tidak ada yang menjual minum.

5. Uang receh 200 yen untuk tiap toilet. Ada toilet di salah satu hut yang menggunakan pintu yang hanya bisa terbuka kalo kita memasukan 200 yen. Jangan lupa bawa tissue basah karena air di toilet Fuji adalah air recycle yang berwarna hitam gelap.

6. Bila ada timbangan sebaiknya total berat yang akan dibawa tidak lebih dari 10 kg.  Berangkat sebaiknya dengan beban yang ringan, keluarkan barang yang tidak terlalu diperlukan.

7. Kamera saku, lebih baik juga bawa tripod gorilla.

Untuk Yoshida trail, dari stasiun 5 ke 6 hanya berjalan menanjak, stasiun 6 ke 7 jalan akan lebih menanjak dan dilengkapi tangga, dari stasiun 7 ke 8, tidak ada tangga, benar benar jalur pendakian berbatu. Dari 8 ke  summit, pendakian batu-batuan agak lebih terjal. Pendakian relatif aman, karena banyak orang tua berumur 60 tahunanan dan anak anak kecil berumur 6 tahun sudah bisa sampai ke summit melalui Yoshida trail.

Untuk strategi pendakian malam hari. Bisa langsung naik ke atas summit tanpa istirahat di Hut, kemudian menunggu matahari terbit. Tetapi, pakaian yang kita gunakan harus siap dengan suhu dingin dan tubuh yang berkeringat akan membuat tubuh terasa lebih dingin. Strategi lain bisa juga bila sampai di Hut stasiun 8 sekitar jam 11 malam atau lebih, segera masuk dan beristirahat dengan membayar 7000 yen. Minta dibangunkan pemilik hut saat matahari terbit dan tubuh akan terasa lebih segar walau hanya tidur sejenak.  Setelah melihat matahari terbit segera naik ke summit dan sempatkan untuk makan di summit sebelum turun ke bawah.

Yang harus kita perhatikan, berangkatlah bersama sahabat, setidaknya kita tidak perlu mengeluh kepada hujan, batu besar dan rerumputan di Fuji bila kaki kita sakit. Sebaiknya tidak berangkat bersama orang yang tidak dikenal, atau baru kenal di jalan, apalagi dengan orang Amerika yang tinggi besar berambut cepak, dijamin langkah kita kalah cepat. Sepertinya banyak prajurit US NAVY dari pangkalan Okinawa yang sedang berlatih fisik sambil liburan di gunung Fuji.

Yang terpenting gunakan kecepatan sendiri dan nikmati setiap langkah yang kita lalui sambil bersyukur kepada Allah SWT, menemui keindahan alam ada walaupun sedang jauh dari tanah air.

Blog ini ditulis biar ngga lupa sekalian sharing cerita. Setelah beberapa hari mengikuti acara conference, tibalah hari terakhir sebelum pulang ke Jepang untuk berkeliling kota Miami. Kebetulan di hotel ada pelayanan untuk city tour dan saya memilih untuk mengikuti city tour dan boat tour. Saya memesan tiket untuk tour ini beberapa hari sebelumnya.

Pada hari kamis sekitar Jam 10 pagi, akhirnya datang seorang wanita berumur sekitar 50 tahunan. Sambil menyapa dan berbasa-basi, ia mempersilakan saya memasuki bis kecil, sambil meminta tanda bukti pembayaran. Ternyata saya penumpang pertama yang masuk ke bis ini. Kemudian bis ini bergerak ke hotel hotel yang berdekatan dengan hotel saya untuk mengambil penumpang hingga bis terisi penuh sekitar 2o orang. Angela memperkenalkan diri, harusnya dia hanya sebagai guide tour, tapi karena supir sedang tidak ada akhirnya dia mejadi tour guide merangkap supir. Dia bilang bisa menguasai berbagai bahasa mulai dari inggris, jerman, perancis dan mexico. Ketika kecil dia sempat besar di Jerman sebelum pindah ke Amerika dan tinggal di Miami.

Pertama kali kita di ajak menuju South Beach, South beach adalah daerah pantai di selatan miami beach. Di pantai south beach ini terkenal dengan film Baywatch dan film filam lainnya. Dipantai ini juga terdapat nudist beach, tapi kami hanya melewati saja karena tujuan kami menuju Art Deco district. Di south beach terdapat banyak bangunan arsitektur art deco tahun 1940an. Kalo dilihat sepintas akan terkenang akan bangunan art deco di jalan Braga Bandung hanya benderanya Amerika. Terdapat hotel-hotel legendaris dan cafe tempat para pesohor Hollywood biasa datang seperti News Cafe. Tempat lain yang menarik adalah mansion almarhum desainer Versace semasih hidup. Hotel Avalon adalah salah satu  hotel yang digunakan dalam film Holywood Al Cappone saat dia melarikan diri ke Miami menghindari FBI. Disini juga terdapat replika mobil Al Capone. Kami diajak berputar di Art Deco district, sambil memperhatikan bangunan bangunan arsitektur art deco.

Setelah dari art deco district, kami diajak menuju little Habana. Kenapa disebut little Havana, ketika saat Fidel Castro berkuasa masa perang dingin, banyak penduduk Kuba yang pindah ke Miami. Lokasi Miami yang berada di tenggara sangat dekat dengan Kuba. Para imigran ini berharap pemerintahan Castro segera berakhir, ternyata hingga kini Castro masih berkuasa, akhirnya mereka menetap menjadi warga Amerika dan memberi nama tempat ini Little Havana. Bangunan rumahnya hanya satu lantai dan tidak memiliki basement. Bangunan rumah memilki arsitektur yang berbeda, atap yang datar dan warna warni yang mencolok. Dulunya daerah ini dikenal rawan kriminal kuba, seiring dengan perbaikan ekonomi, kriminalitas menurun. Kami sempat berhenti sejenak untuk foto2  dan menikmati kopi kuba yang rasanya jelas lebih enak kopi luwak Indonesia.

Setelah dari little havana, kami menuju Coral Gable, ini adalah district yang berbeda di Miami. Bangunannya juga berbeda, mirip bangunan spanyol dan bertingkat dua. Tiap rumah memiliki pohon besar, dan jenis pohonya pohon tropis. Jadi mirip dengan Indonesia suasananya. Apalagi ada bagian jalan yang tidak ada trotoarnya jadi ingat daerah di Jakarta. Uniknya bis kami berhenti saat pemandu menunjukan pohon mango,  pohon banana dan pohon papaya kepada para turis eropa. Apes deh saya dari Indonesia ditunjukin mangga, pepaya, pisang, konyolnya saya ikutan foto pohonnya juga. Setelah itu kami diajak melihat hotel termahal di Coral Gable dan berhenti sejenak untuk berfoto.

Ada cerita unik di Coral Gable, di rumah rumah besar di coral Gable dibelakangnya terdapat sungai dan mereka menaruh boat dibelakangnya. Ternyata di sungai ini terdapat aligator, sebenarnya awalnya tidak ada aligator di Coral Gable. Hanya kebiasaan orang kaya dari Florida yang memelihara baby Aligator kecil yang cute, setelah aligator tumbuh besar wajahnya menjadi seperti monster, akhirnya mereka membuang aligatornya di sungai belakang rumah. Sepertinya Aligator cocok tinggal di sungai Coral Gable dan berkembang biak cepat. Hingga banyak laporan ke dinas hewan dan polisi adanya Aligator yang lewat didepan rumah warga. Jadi teringat kisah ikan sapu sapu di Jakarta..

Ada juga cerita pohon Bayan yang awalnya dibuat untuk penghijauan. Pohon ini asalnya dari Afrika, tapi ternyata setelah bertahun tahun menjadi besar dan menghisap sangat banyak air tanah coral gable. Saat summer air tanah di coral Gable menurun, pohon pohon ini tetap segar. Akhirnya dewan kota berencana menebang puluhan pohon ini, tapi ditentang oleh kelompok lingkungan hidup. Akhirnya pohon ini tetap dibiarkan bertahan hidup dan menjadi salah satu ikon di kota Miami

Setelah dari Coral Gable kami menuju ke Bay Side untuk Boat Trip. Akhirnya sampai juga kami di Bay Side. Di Bayside ini terdapat bangunan Mall di pinggir laut. Bangunan di Bayside berisi toko toko dan restaurant, salah satu restaurant yang pelayannya unik adalah The Hooters. Saya akhirnya makan di salah satu restauran di pinggir laut, karena saat itu jam 1 siang dan kapalnya baru berangkat jam 2 siang. Lumayan makan steak besar dan kentang yang besar besar, jarang saya temukan di Jepang. Salah satu bangunan di bayside adalah Hard Rock Cafe Miami. Setelah makan akhirnya saya ke Hard rock cafe, tidak jauh berbeda, mirip mirip ornamen didalamnya dengan interior di Hrc di Bali, Jakarta ataupun di Hrc Ueno di Jepang. Saya sempat bertemu dengan 2 orang mahasiswi dari Jepang yang sedang sekolah di Miami. Saya cerita ke mereka, bulan lalu saya ketemu gempa besar di Jepang. It’s really a rare experience kata salah satu mereka. Akhirnya ketemu juga dengan orang Jepang yang bisa berbicara bahasa inggris dengan lancar dan jelas.

Saat jam 2 datang, tibalah saat menaiki Boat namanya Miami Lady. Saya duduk dipaling pinggir supaya bisa dengan mudah mengambil gambar. Sebelah saya duduk ibu ibu gemuk hispanik yang tidak bisa ngomong inggris. Pertama kali kami menjauhi daerah bayside. Pemandu bercerita dulu diatas gedung Hrc ada gitar besar, tapi sudah diturunkan karena hampir rubuh diterjang badai Katrina. Setelah menjauhi pantai, kami menuju pulau yang berisi mansion mansion dan yatch dari para pesohor seperti Stallone, P Diddy, Gloria Estevan, Jenifer Lopes dan para artis Hollywood lainnya. Selain para pesohor, salah satu mansion ini juga ternyata milik gembong mafia Al Cappone.

Tiba-tiba ada helikopter Fashion TV berputar di atas kami, ternyata sedang mengambil gambar dari atas ke sebuah Yatch yang berisi para perempuan dengan bikini dengan berbagai gaya. Semua penumpang melihat ke arah Yatch tersebut. “Welcome to Miami”.. kata si pemandu dengan tersenyum. “Kalo anda ingin membeli Yacht silahkan menghubungi Scott storch sepertinya dia memerlukan uang “.. sambil boat melewati sebuah Yacht besar milik salah satu seorang musisi dan manajer rekaman musik di Miami.

Setelah berputar putar, akhirnya kami kembali ke Bayside setelah itu menuju ke tempat parkir bis menuju bis yang sama yang akan mengantarkan pulang ke Hotel. Ternyata Miami Beach memang tempat wisata yang terus berdenyut 24 jam, tapi jelas  hanya untuk milyuner berduit kelas dunia. Untuk turis biasa cukuplah melihat kemewahan para pesohor Amerika ini.

Dulu ketika masih mencari cari beasiswa S3, Amerika adalah salah satu negara tujuan belajar yang ingin saya capai. Dengan beberapa kali apply Fulbright namun hasilnya tetap gagal. Tapi mungkin jalan hiduplah yang akan menentukan tetap sampai di tanah Amerika.

Sebagai mahasiswa PhD, kami wajib untuk aktif membuat paper penelitian, tidak hanya untuk jurnal tetapi juga untuk sharing dengan sesama periset di conference. Akhirnya saya menemukan conference yang sesuai dengan bidang saya dan diselenggarakan di Miami Beach. Setelah kirim abstract dan menyusul paper, akhirnya tibalah surat udangan untuk hadir di conference di Miami Beach, Florida. Akhirnya saya bisa juga berangkat ke Amerika. Teman di lab kadang bercanda.. “waah bisa aja pilih conference di Miami Beach.. hehehe..” Apapun itu, yang penting saya dapat pengalaman ke US.

Setelah dapat surat sakti pdf undangan dari panitia conference, segaralah saya mengurus visa ke Amerika. Mengurus visa ke Amerika dari Jepang, haruslah melalui media online dari website US embassy dan harus juga memiliki foto ukuran khusus. Pengalaman yang unik ketika mengisi form online, kalo kita terlalu lama buka halamanya, halaman tersebut akan ditutup otomatis dan kita harus membuka sectionnya dari awal lagi.  Kirain bisa semalam selesai ternyata lama juga, hebatnya website US ini selain keamanan berlapis ada fasilitas save, jadi kita bisa buka lagi dikemudian hari tanpa perlu mengisi data dari awal.

Setelah setiap halaman pertanyaan online selesai terisi, akhirnya dapatlah jadwal wawancara di kedutaan amerika, rabu tanggal 9 April. Setelah membayar uang administrasi dan membeli amplop D 500, kita perlu melengkapi semua yang diminta berdasarkan urutan kelengkapan yang diminta. Waktu wawancara saya jam 10.30 pagi, tapi ketika sampai pukul 9 pagi di kedutaan Amerika di roppongi, antrian di depan gerbang sudah cukup panjang. Ditengah udara dingin, bendera amerika berkibar pelan ditiup angin, sejenak teringat Obama yang datang ke Indonesia, kini saatnya saya berkunjung ke negeri Obama.  Gerbang kedutaan yang tinggi besar dengan barikade pemeriksaan yang berlapis, cctv dimana mana. Sambil memandang bendera amerika yang berkibar saya bersenadung di dalam hati.. “O’er the land of the free.. and the home of the brave..”  Negeri kapitalis yang sangat dibenci para teroris militan di Indonesia, hehehe.. who cares..

Setelah melawati post pemeriksaan, akhirnya saya menyerahkan semua data ke loket mengikuti nomer urut. Semua prosedur ada diwebsite kita tinggal siapkan apa yang diminta sesuai urutan permintaan. Di ruangan interview, beberapa kali saya diminta untuk mengelap tangan, karena sidik jari saya tidak terdetect. Akhirnya setelah interview dengan beberapa pertanyaan, saya diberi surat keterangan untuk tunggu, visa akan dikirim langsung ke rumah. Petugas hanya menanyakan umur, tujuan, dimana sedang sekolah, kenapa pilih conference tersebut dan yang terakhir kapan sekolahnya selesai?. Pertanyaan terakhir saya jawab dan dilengkapi bahwa 1 bulan setelah conference akan ada PhD defense dan saya akan segera pulang ke Jepang. Setelah jawaban saya itu, petugas itu tidak bertanya lagi.

Konyolnya beberapa hari kemudian, tanggal jumat 11 maret 2011, terjadi gempa besar di Jepang. Saya benar benar pasrah apakah visa tetap terurus atau nantinya tidak ada penerbangan dari Narita. Tiba tiba hari selasa siang tanggal 15 maret, ada bel berbunyi di apato, dan ternyata petugas dari JP post mengantarkan passport saya yang didalamnya sudah ada visa us. Akhirnya berangkat juga saya ke Amerika. Saya coba buka website, saya check data visa, ternyata masih belum dipublish juga. Berarti saya yang pertama lolos submitted dihari saya apply visa.

Yeaah finally.. Miami Beach Florida.., I’m coming..

Kejadiannya ketika hari jumat siang tanggal 11 Maret 2011 pukul 2.20

Hari itu saya dan rekan saya mas Suhar baru saja kembali ke kampus sehabis sholat jumat di masjid Shin Okubo.  Ternyata di Lab sudah ada rekan saya lainnya mas Aswin yang katanya hanya mampir sejenak ke kampus, tadinya dia tidak ada niat ke kampus. Kami makan siang bersama sambil ngobrol, saat itu waktu sekitar pukul 2.15.  Mas Suhar menawarkan kopi yang ia beli di toko Indonesia di Shin Okubo. Kami pun dengan senang hati menerima tawaran kopi sachet 3 in 1 dari Indonesia.

Tiba2 ada getaran gempa beberapa detik, kami tidak jadi bikin kopi.  Kemudian terjadi goncangan kuat, kali ini lebih kuat dan lebih lama dari sebelumnya. Saya mencoba menelepon istri saya via softbank, tapi sia sia tidak sinyal. Saya ke toilet dan bertemu prof Ayao Tsuge, kami sempat berkelakar kalo di Indonesia pun sering gempa, tetapi bila gempa kami harus segera lari keluar karena gedungnya tidak disiapkan untuk gempa besar.  Dan sempat bercerita kalo ada student jepang malah tetap berada di depan komputer ketika ada gempa di ITB sementara mahasiswa lain sudah panik turun keluar, dia baru mau bergerak ketika kita bilang ini “Indonesia bukan Jepang”.

Tiba-tiba terjadi goncangan lagi, kali ini lebih keras dan cukup lama menggoyang gedung gedung. Kami melihat keluar gedung, orang Jepang tampak panik dan merunduk, tiang lampu pinggir jalan berguncang. Goncangannya sekitar satu menit, kami mulai panik dan keluar ruangan lab. Kemudian goncangan berhenti untuk sementara dan kami kembali masuk ke ruangan. Gedung kami di Tamachi masih baru dan standard untuk gempa 9M, jadi kami agak tenang. Tapi saya agak panik karena tidak dapat menghubungi keluarga sama sekali.

Tidak beberapa lama kemuadian terjadi goncangan sangat kuat kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Gedung rasanya seperti bandul yang diayun, rasanya di dalam kapal laut melewati ombak. Suara gedung yang tadinya berbunyi doong.. dooong.. dooong.. tiba tiba ritmenya menjadi sangat cepat seperti orang memukul paku dengan palu. Yang terkeras berbunyi menjadi “nguuikk… rasanya gedung menjadi miring bergoyang cepat seperti bandul. Saya mencoba membuka web site Japan Meteorological Agency ternyata gempa sampai 8.9M dan berpotensi tsunami. Saat itu sensei masuk ruangan dan di bilang ini gempa besar, akan banyak bangunan rubuh dan jatuh korban. Dia juga bilang tidak dapat menghubungi keluarganya.  Saya bilang kalo ada warning tsunami di JMA, dan sensei terlihat panik, karena beliau tinggal di daerah Makuhari, dekat dengan teluk tokyo.

Saya coba tulis status di Facebook mumpung internet jalan, kondisi terakhir, teman saya membalas saat ini sedang liat CNN di Indonesia, dan ada tsunami akan datang. Di luar gedung, helikopter berputar putar dan sirine tsunami meraung keras, persis seperti saat akan ada perang seperti di film2 perang dunia ke dua.  Mas Aswin dan mas Suhar kembali ke dalam lab, guncangan masih ada namun tidak sekeras yang tadi. Rasanya seperti habis naik kereta api, terus bergoyang dan saya memutuskan untuk segera pulang walaupun tahu bisanya KRL akan diberhentikan bila gempa.  Setelah pamit dengan mas Aswin dan mas Suhar, saya pun menuju stasiun yang berjarak hanya 1o menit berjalan, dugaan saya benar, tidak ada kereta sama sekali. Ditengah stasiun ada TV besar menyiarkan live tsunami sedang menuju sendai yang tingginya bervariasi mulai dari 7m hingga 10m. Rasanya dejavu seperti melihat tsunami menerjang Aceh tahun 2005 lalu hanya bedanya kali ini ini bangunannya modern. Mobil2 dan bis digulung ombak dengan mudah. Kebakaran dimana mana dan kapal kapal nelayan terbawa masuk kedalam daratan dengan cepat. Gelombang tsunami susulan menghapiri sendai setelah menghantam Airport, garis putih ditengah laut bergerak cepat, “sebuah ombak yang indah dan mematikan, menunjukan betapa kuatnya alam ciptaan Allah SWT

Saya perhatikan orang jepang masih tenang melihat NHK tidak panik, beberapa masih tampak kesal karena tidak ada kereta. Sepertinya mereka belum menyadari kalo ini suatu bencana besar yang akan menghabiskan nyawa ratusan ribu orang seperti tsunami di Aceh. Hebatnya disini polisi siaga satu, mereka berada di tempatnya mengarahkan para penumpang untuk tidak berdiri dibawah papan petunjuk. Sesekali susulan gempa terjadi, dan orang orang mulai terlihat tegang dan bosan karena tidak ada kereta, telepon umum menjadi penuh, telekomunikasi mati. Akhirnya saya memutuskan kembali ke kampus daripada berdiam di stasiun.

Sampai di kampus, kami diminta untuk tetap tinggal di kampus dan akan dibagikan suvival food dari kampus. Hebatnya internet tidak mati, alhamdulillah saya bisa kontak dengan istri dan tenang, tidak terjadi sesuatu yang buruk dengan keluarga saya di Higashi Omiya. Goncangan susulan masih kerap ada, waktu menunjukan pukul 4.30 sore, namun guncangan gempa masih terasa. Ketika sholat ashar pun rasanya goyangannya masih terasa walaupun tidak ada gempa.

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli minum dan roti di Lawson depan kampus. Ternyata pikiran orang sama, air mineral, roti, makan malam, minuman kaleng habis. Yang tersisa hanya majalah, dan rak minuman bir. Antrian panjang mengular didepan kasir, seorang anak muda Amerika tampak kesal sambil berkata “fuck.. fuck” karena kesal mengantri. Saya sempat bertemu sensei, dia tertawa waktu saya bilang ini persiapan untuk menginap di kampus.

Malamnya kami dibagikan makanan kaleng dan dan roti kering. Rasanya lucu juga dapat makanan kaleng yang didalamnya ada muffin. Rasanya manis sekali, biasaya makanan Jepang rasanya hambar, jadi langsung kenyang di perut. Kami bertiga ngobrol sperti saat kemping, atau terdampar di kampus tepatnya. Mas Aswin masih terheran2, koq bisa gempanya pas kami ada bertiga di lab.  Hingga malam masih ada gempa susulan. Kepala rasanya pusing, karena adanya suspensi di pondasi gedung membuat gedung bergerak seperti bandul bila ada gempa. Mau tidurpun susah karena was was. Alahamdulillah jam 10 sambungan softbank mulai ada dan saya bisa kontak langsung dengan istri memastikan keadaan di rumah aman. Sekitar pukul 4 pagi, terjadi lagi getaran keras, tapi rasa kantuk mengalahkan kepanikan, kamipun tertidur lagi.

Saya terbangun saat pukul 5 untuk sholat subuh. Rasanya itu sholat subuh terbaik, dimana saya bersyukur kepada Allah SWT telah melewati malam yang tidak pernah saya bayangkan terjadi di negara orang. Akhirnya pukul 9 pagi saya kembali menuju stasiun, langit cerah dan saya bersyukur bertemu kereta KRL keihin tohoku line yang beroperasi di tengah gempa susulan. Beberapa kali kereta berhenti karena adanya gempa. Kereta sangat penuh sesak, hampir tidak bisa bernafas, alhamdulillah kami sampai di stasiun Omiya. Dan pulang ke rumah dengan taksi, berbaris rapi 4 jam dari jam 1 siang hingga pukul 5 sore baru kebagian dapat taksi. Alhamdulillah bisa berkumpul kembali dengan keluarga.

Satu minggu pasca gempa merupakan hari hari yang kristis di Tokyo, dengan adanya ledakan di reaktor nuklir Fukushima dan habisnya barang2 di Super market dan penuh ketidak pastian. Benar benar hari yang tidak akan terlupakan dalam hidup.

Suatu hari seorang teman akan pulang pertama kalinya ke Indonesia dari Jepang dan mengurus Multiple entry seorang diri ke kantor Imigrasi.

“Pasupoto..” (passport)  kata petugas imigrasi.

 ”Hai..”(iya) jawab teman saya dengan sigap dan mengeluarkan pas photo 3×4 dari dompetnya.

“Pasupoto..!”(passport..!) kata petugas imigrasi lagi.

“Kore wa pas poto..! (ini pas photo)” jawab teman saya ngotot sambil menunjuk ke foto 3X4nya.

“ie..ie..Chigao..!” (bukan.. bukan.. lain)”. jawab petugas imigrasi lebih ngotot.

Akhirnya teman saya tersadar mengeluarkan “pasupoto” alias passportnya dan memberikannya kepada petugas imigrasi.

Kali ini seperti standard operasi, petugas imigrasi Jepang tidak berkata apa-apa selain mengejarkan tugasnya dan meminta teman saya menunggu nomer panggilan.

Saya masih ingat waktu masih SMP, diajak ibu saya untuk menemaninya untuk pergi ke salah satu gedung bank di jalan Sudirman Jakarta. Mobil sedan mahal lalu lalang di depan lobby menurunkan orang orang terlihat fresh dan rapi walaupun sudah tua dan para satpam memberi salam hormat kepada mereka. Saya hanya duduk di lobby sementara ibu saya ke tempat teller bank. Saya melihat brosur brosur yang ada di meja tunggu. Saat itu saya tidak mengerti sama sekali tentang kartu kredit. Kartu kredit yang masa itu terlihat indah di iklan TV RCTI dengan decoder, master card, visa. Tangan saya memegang brosur yang aplikasi dan saya melihat kebagian data aplikasi. Yang menarik adalah pilihan pendidikan tertinggi, saya ingat hanya ada empat pilihan High School, Undergraduate/ College, Master dan Doctor. Saat itu dibenak saya, satu saat saya akan memberi tanda S3 sebagai pilihan terakhir pendidikan tertinggi saya. Hari ini tahun terakhir saya menempuh pendidikan doktor, dan ada jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi yaitu post doc. Sebuah perjalanan panjang pendidikan yang dilalui, pada akhirnya bukan secarik kertas yang kita hargai, tetapi bagaimana kita melaluinya hingga diakui dan meraih selembar kertas tersebut itulah yang akan kita kenang dan hargai.

Sebelum berangkat di Jepang, saya sudah diwanti wanti oleh rekan yang pernah studi di Jepang untuk perhatikan jadwal pembuangan sampah. Ada hari sampah organik dan non organik dan hari sampah elektronik dimana bisa lihat tv atau walkman sony dibuang begitu saja ditempat sampah. Awalnya hal ini tidak terbayang oleh saya ada orang buang TV ke tempat sampah atau benda elektronik apa lagi ada jadwal hari sampah yang harus diperhatikan atau sampahnya tidak diangkut. Setahu saya di Indonesia hanya ada slogan ” Buanglah sampah pada tempatnya”..

Di Jepang kita harus memisahkan jenis-jenis sampah, burnable, unburnable dan recycling. Awalnya saat tinggal di asrama, pemilik asrama sering marah marah karena banyaknya sampah yang tercampur dan dibuang tidak semestinya. Contohnya kalo sampah burnable contohnya sisa sayuran atau kulit buah-buahan harus dibuang di satu tempat sampah dibungkus plastik transaparan, sampah unburnable seperti kaleng, botol, lampu, termometer harus dibuang di satu tempat sampah dibungkus plastik transparan dan recycle seperti plastik, kertas, botol PET juga disatu tempat sampah juga dibungkus plastik bening. Barang yang dapat digunakan lagi seperti buku, majalah, kardus harus diikat dan diplastikan supaya tidak basah saat hujan.

Informasi tentang sampah ini diberikan oleh city ward, atau kantor kecamatan saat kita mengurus ID, ada versi jepang dan juga versi inggris. Tibalah saatnya saya pidah ke apartemen kecil sendiri, waktunya masuk kedalam pemukiman masyarakat Jepang. Disini sampah dikumpulkan di satu tempat, tiap area yang terdiri dari beberapa rumah memiliki satu lokasi pembuangan sampah. Tiap lokasi pembuangan sampah terpampang jadwal pengambilan sampah dan jadwal harian sampah yang berbeda-beda. Misalnya didaerah saya di Higashi Omiya, sampah burnable hari senin dan kamis, hari selasa sampah unburnable, hari jumat hari sampah recycle. Hari rabu, sabtu dan minggu tidak ada jadwal pengambilan sampah.

Di Jepang ini setiap tumpukan plastik sampah harus di tutup dengan jaring, hal ini supaya tidak ada kucing yang masuk membongkar plastik sampah atau burung gagak. Masalah burung gagak ini ternyata paling sering yang saya lihat selama saya disini. Banyak orang bilang ini burung cerdas, mungkin juga, burung ini paling sering mengacak-acak tumpukan sampah dihari sampah burnable (hari senin dan kamis). Jadwal pengambilan sampah di Higashi Omiya sekitar pukul 9 pagi baru sampah terangkut bersih oleh truk sampah yang bersih juga. Burung-burung ini bergerak saat matahari terbit pukul 6, jadi mereka masih ada waktu untuk berburu sampah sebelum truk sampah datang. Kadang pastik kresek sampah yang berisi sisa makanan, buah dan sayuran ditarik ke tengah jalan. Dan biasanya ada 2 burung yang bersama sama membongkar dan hanya mengambil yang perlu saja. Kadang hanya mengambil semacam tali, mungkin untuk membuat sarang. Sayang burung-burung ini selalu menghindar saat akan di foto, susah untuk dapat momennya.

Awalnya tidak ada masalah, biasanya saya membuang sampah saat malam hari, karena pagi harus berangkat ke kampus dan ditempat sampah juga sudah ada plastik sampah yang lainnya. Sepertinya hal ini tidak boleh, karena resiko dibongkar binatang pada saat malam hari. Hingga satu saat saya membuang di malam hari dan menutup rapi dengan jaring, tapi hanya ada plastik sampah saya, hal ini membuat saya curiga, kenapa malam ini hanya sampah saya saja yang ada, dimana yang lainnya? Orang Jepang ini hidupnya sangat teratur, tidak random seperti di Indonesia, jadi kalo kita peka kita akan tahu perubahan yang ada. Tapi saya pikir, tidak akan ada yang tahu ini sampah saya, toh sudah malam dan kalo yang dicurigai orang asing tidak hanya saya mahasiswa asing disini, atau mungkin orang jepang lainnya karena plastik yang saya gunakan biasa seperti orang jepang lainnya.

Ternyata dugaan saya salah, hingga dipagi hari di salah satu keranjang sepeda milik teman saya ada bungkusan plastik sampah diaper. Hmm.. ini plastik sampah popoknya siapa yaa, mirip dengan punya kita, kata saya ke istri, mungkin punya tetangga malaysia yang juga punya bayi. Sampai akhirnya keesokan hari minggu sampah itu masih ada ditempat yang sama dan setelah diperhatikan lagi ternyata itu sampah milik saya. Buru buru saya ambil sampah saya dari keranjang sepeda teman saya dan dibawa masuk kembali ke dalam rumah. Antara perasaan kesal, marah pertama kali dalam hidup ada kantung sampah yang sudah dibuang dikembalikan lagi. Apa maksudnya, koq bisa tahu, apa mereka memata matai tempat sampah?

Saya obrolkan masalah ini ke tetangga malaysia yang lebih lama tinggal disini. Ternyata masalahnya ada 2 kesalahan yang saya buat, pertama saya buang dilokasi sampah yang salah, untuk gedung saya berada area pembuangan yang lain. Saya buangnya ketika malam, hal ini tidak boleh dan sepertinya baru diberlakukan di area pembuangan tersebut, dan saya tidak paham karena tulisannya kanji. Koq bisa balik ke gedung saya, ternyata mereka memperhatikan bungkus plastik diaper yang saya buang. Konyolnya saat itu hanya saya dan tetangga malaysia itu yang punya bayi, jadi mereka mudah menandai, maklum di jepang sekarang lagi zero population. Saat ini tetangga malaysia saya sudah lulus dan balik ke negerinya, tinggallah di satu blok hanya saya satu satunya yang punya bayi.

Disini ternyata, setiap blok punya aturan area pembuangan sampah. Orang yang tinggal di luar blok sampah tersebut tidak boleh buang sampah disitu, walaupun lokasi tempat sampahnya lebih dekat daripada lokasi sampah semestinya. Tiap blok sampah ini ada penanggung jawabnya, orang ini yang akan meneliti ketepatan pembuangan sampah harus sesuai jadwalnya. Bila salah dia harus menegurnya, orang jepang bukan tipe yang langsung menegur tetapi menegurnya dengan moral salah satunya dengan membuat malu orang yang salah. Maklum rasa malu karena salah, disini itu adalah kesalahan besar, sementara saya didikan pendidikan Indonesia yang terbiasa dididik untuk jangan pernah merasa malu. Seingat saya malu itu boleh kalo salah, buang sampah sembarangan di Indonesia salah, tapi kita tidak merasa malu karena hampir semua orang melakukannya dan biasanya kalo diingatkan akan bilang yang lain juga sama.

Akhirnya saya jadi sering memperhatikan tempat2 sampah disini dan perilaku mereka membuang sampah. Manusia itu memang selalu mencari celah untuk berbuat kesalahan juga banyak orang Jepang yang tidak mengikuti aturan. Saya tidak bilang kalo manusia Jepang itu bersih bersih. Disini saya juga banyak menemukan kejorokan yang dilakukan orang Jepang yang kadang katagorinya sama dengan umumnya di Indonesia. Saya masih toleran dengan penduduk Indonesia yang jorok, maklum negara padat populasi dengan berbagai tingkat pendidikan dan tidak ada sistem yang baik untuk sampah.

Jadi apa yang bikin beda? Negara Jepang ini membentuk manusia dengan sistem terukur, begitu juga lingkungannya. Orang disini bila ada sampah kecil walau itu bukan sampahnya dan bukan pekerjaanya tetap sampahnya di ambil. Sistem sampah ini membuat negeri ini bersih,  walaupun di jalan sedikit sekali menemukan tempat sampah di banding di Indonesia, tapi jalanan tetap bersih. Sistem yang mereka buat harus bisa terukur dan presisi untuk mendapat hasil yang baik. Proses yang dilakukan akan mempengaruhi proses yang lain dan sebisa mungkin memudahkan pekerjaan proses berikutnya. Begitu juga sistem pengumpulan sampah supaya mudah untuk proses pengolahan sampah berikutnya.

Apa bisa sistem itu merubah perilaku manusianya, saya yakin bila sistemnya baik dan ada saling mengawasi serta konsisten pasti manusianya berubah menjadi lebih teratur. Saya pribadi termasuk kontributor sampah di jalan-jalan di Indonesia. Habis beli makanan atau minuman langsung saya lempar ke got pinggir jalan atau tumpukan sampah yang sudah ada. Kadang sambil naik mobil pun saya juga pernah buang sampah ke pinggir jalan, rasanya begitu bebas. Bagaimana sekarang di negeri orang? Disini tempat sampah sulit ditemui, alasan yang bagus untuk buang sampah sembarangan, juga ada sedikit sampah lainnya di pinggir jalan, populasi orangnya sedikit jadi tidak akan ada yang tahu, lengkaplah alasan membuang sampah sembarangan. Yang bikin saya tidak mau buang sampah sembarangan hanya rasa suka dengan bersih, rasa senang bisa kontribusi jaga kebersihan lingkungan dan yang terbaik merasa bangga bisa sama bersih dan bisa juga lebih bersih di banding manusia lokalnya.

Ini yang harus dilakukan bapak-bapak Indonesia yang anaknya lahir di Jepang.

1. Lapor ke City Ward dalam kurang dari 14 hari sejak bayi lahir dengan membawa surat bukti lahir dari rumah sakit untuk mendapatkan:

- surat bukti kelahiran dari dari City Ward, kartu ID bayi dan kartu asuransi sementara selama 90 hari yang nantinya diganti setelah dapat visa.

- Urus ke bagian Children Welfare, disini untuk dapat tunjangan kesejahteraan untuk bayi dari pemerintah Jepang. Ini penting karena sistem di Jepang peduli dengan kesejahteraan bayi sampai masuk sekolah. Berhubung saya tidak berpenghasilan karena mahasiswa dan tidak berkerja, saya harus ajukan aplikasi permohonan bebas pajak baru kemudian dilanjutkan ke bagian Children Welfare. Kalo berpenghasilan akan dikenakan bea pajak untuk dapatkan fasilitas ini.

Urusan di City Ward ini selesai dalam waktu 2 jam dalam satu hari, tanpa dipungut biaya dan sangat dibantu oleh para petugasnya.

2. Urus ke KBRI untuk surat bukti kelahiran dari KBRI yang nanti berguna untuk urus sertifikat kelahiran di Indonesia.

-3. Urus ke KBRI untuk mendapatkan passport Indonesia untuk bayi, disini kita perlu siapkan foto bayi 3 x 4 dengan background warna merah.

Buat foto, di KBRI ada foto box yang bisa kita gunakan, atau kalo bayinya riskan dibawa keluar pas winter, bisa gunakan kain warna merah untuk background, ngga ada kain bisa gunakan baju kita yang warna merah polos. Yang penting gimana caranya supaya bayinya bisa lihat lensa kamera. Pengalaman saya dipilih 1 foto terbaik diantara 20 foto lebih sebelum bayinya akhirnya menangis.

4. Terakhir urus ke Immigrasi terdekat untuk dapatkan visa bayi. Kalo bisa dalam waktu 30 hari setelah kelahiran. Kalau terlalu lama kita akan di tegur petugas imigrasi yang curiga mengapa kita tidak cepat urus visa dan apa alasannya.

My Baby Due Date

Lilypie

Blog Stats

  • 5,873 hits
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.